Lapindo mud could harm Surabaya mangrove forest

Mud dumped into the sea from the Lapindo mudflow through the Porong river will impact coastal ecosystems from eastern Surabaya to Pasuruan on Madura Island, researchers warn.

A 2,300-hectare mangrove forest in the Surabaya municipality’s Mangrove Center is now at risk, as it is only 30 kilometers from the mudflow outlet.

Edy Hendras Wahyono, a mangrove researcher at the Nature Conservation and Education Foundation (YPKA), said his team would carry out comprehensive research on potential threats from the mud to the mangrove forest.

“We’ll analyze the mudflow content, as well as the condition of mangroves planted by the Sidoarjo Mudflow Mitigation Agency *BPLS* at the end of the Porong river,” he told The Jakarta Post recently, after a presentation about a visibility study on mangrove development before Surabaya Mayor Bambang Dwo Hartono and representatives of cigarette manufaturer PT H.M. Sampoerna.

Co-funded by the municipality and Sampoerna, the Surabaya Mangrove Center has been designed as a conservation, research and ecotourism area, like the Muara Angke Wildlife Reserve in Jakarta and the Mangrove Information Center in Bali.

Edy said Surabaya’s east coast was “very feasible” for a conservation site, considering its natural condition and the existence of 16 mangrove species, 137 bird species, 50 insect species, seven mammal species, 10 herpetofauna species, 18 fish species and seven crustacean species.

“There are also mangrove tigers, long-tailed monkeys that pick up mangrove fruit with their tails. red dragonflies, which indicates a potential sign of water springs in the vicinity, and Black Drongo birds that are rarely found in Indonesia. as well as migratory birds from New Zealand,” he said.

The whole ecosystem was in danger, he went on, thanks to the mudflow, coupled with plastic waste from the nearby Ria Ken-jeran beach and Surabaya’s Tanjung Perak port.

Marine expert Muktasor of the 10th November Institute of Technology (ITS) also warned the Lapindo mud would be spread out by waves, endangering fishermen’s catches from Pasuruan through to Probolinggo and potentially making the Madura Strait shallower through silt deposits.

However, deputy BPLS operational head Soffian Hadi said the mud being channeled out to sea would not reach the Madura strait or beaches in Pasuruan, but would settle along the Sidoarjo coast.

In response to warnings, Mayor Bambang has ordered an immediate study into the potential threat from the mud, to guard against damage to mangrove forests, as 40 percent of the forests have already been destroyed by illegal logging and mangrove diseases.

“I have prepared all the things necessary to develop the Surabaya east coast as a conservation site, so my successor will continue this program when I’m no longer in office,” he said.

“To strengthen our legal base, we have also asked the government to designate the area for conservation.”

He also said the administration had sent a letter requesting the State Land Agency (BPN) to stop issuing land certificates in the mangrove forest, pointing out a 167-hectare area allocated for planned buildings and aquaculture ponds.

Indra Harsaputra ,  The Jakarta Post ,  Surabaya   |  Wed, 06/10/2009 1:04 PM  |  The Archipelago

Please visit: http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/10/lapindo-mud-could-harm-surabaya-mangrove-forest.html

Iklan

Belajar Dari Nol…

Belajar dari Nol, merupakan sebuah rangkaian pengalaman membangun dan melakukan program pendidikan konservasi di dalam kawasan taman nasional. Pengalaman yang kami lakukan memang bermula dari titik nol (belajar dan belajar) untuk melakukan kegiatan program pendidikan bagi siswa sekolah, mahasiswa ataupun masyarakat umum. Karena kegiatan sehari-hari tidak hanya memberikan informasi kepada siswa sekolah, tetapi juga kepada pengunjung dari berbagai kalangan, seperti anggota keluarga, kelompok pecinta alam, staff dan karyawan kantor ataupun pengunjung lain yang ingin melakukan studi banding mengetahui lebih jauh tentang program yang telah dilakukan.

Pendidikan konservasi yang telah kami kembangkan sejak tahun 1998, sebenarnya lebih cenderung kepada mempromosikan dan menarik minat semua pihak untuk memecahkan bersama permasalahan lingkungan yang ada di sekitar kita. Caranya adalah memberikan pengetahuan tentang kehidupan di alam, sehingga mereka dengan sendirinya akan mengetahui bagaimana sebaiknya memelihara alam itu sendiri. Selain itu juga dengan berbagai kemasan yang ada, peserta diajak untuk berpikir, memotivasi dan menimbulkan apresiasi untuk melestarikan alam dan lingkungan.

Program yang kami lakukan selain ditujukan kepada siswa sekolah formal, yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keluarga dan lingkungannya, juga memberikan pengetahuan sedini mungkin agar kelak selalu diingat dalam kehidupannya.

Pemberian pengetahuan kehidupan di alam kepada lingkungan pendidikan non formal, tak kalah pentingnya. Misalnya kepada masyarakat dari berbagai kalangan. Program di sini lebih mengetengahkan masalah pesan-pesan konservasi yang diberikan dengan berbagai permainan dan simulasi.

Program pendidikan yang dilakukan tak hanya berkunjung ke sekolah, namun cenderung siswa berkunjung ke lapangan. Kontak langsung dengan alam, memberikan pengalaman yang unik dan atau pengelaman yang pertama untuk mengetahu tentang alam. Sehingga pengalaman ini akan dijadikan sebuah kenangan bagi setiap orang yang datang.

Proses yang panjang dengan berawal pengalaman untuk pendidikan di alam yang minim, mengeluarkan sebuah catatan yang tak ternilai harganya. Hanya berbekal kemauan dan kerjasama antara semua pihak, program ini berjalan dengan baik dan mendapatkan respon dari pengunjung dan peserta pendidikan yang cukup menggembirakan.

Kekurangan tentu terjadi setiap saat, masukan dari pengunjung dan hasil pertemuan serta buku-buku literatur, merupakan tambahan dalam mengembangkan program pendidikan. Bermimpi untuk menjadi sebuah lembaga pendidikan konservasi alam yang mandiri, tentu tak mudah. Dan pengalaman inilah yang membuat kami terus mengembangkan program pendidikan konservasi dengan konsep kemandirian. Kemungkinan suatu saat pembaca merencanakan mendirikan sebuah program pendidikan konservasi alam, atau yang sedang mengembangkan, pengalaman ini cukup menarik untuk dijadikan acuan dalam mengembangkan program tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat, Amien

YAPEKA